Analisis dan Observasi Berita Koran_Shabrina Trisza Pusparayi_2106321051
Kompas, Senin, 4 Oktober 2021
Papua
Terus Bersolek
Wajah Indonesia di wilayah perbatasan Papua terus
dibenahi. Peningkatan konektivitas di Papua juga dilakukan lewat pembangunan
sejumlah infrastruktur bandara.
MERAUKE, KOMPAS — Pembangunan pos lintas batas
negara atau PLBN terpadu diharapkan menjadi salah satu. pengungkit perekonomian
di wilayah perbatasan Papua. Pada saat yang sama, konektivitas wilayah juga
ditingkatkan.
Saat meresmikan PLBN Sota di Merauke, Papua, Minggu
(3/10/2021), Presiden Joko Widodo mengingatkan, kawasan perbatasan merupakan
beranda depan. wilayah Indonesia yang mewakili wajah bangsa. Karena Itu,
perbatasan harus terus dibangun dan merepresentasikan - kemajuan bangsa.
"Karena itu, sejak tujuh tahun terakhir saya
memerintahkan pembangunan PLBN di berbagai wilayah Tanah Air. Dengan wajah
baru, tampilan baru, dan paling penting pelayanan baru yang lebih baik sebagai
cermin komitmen kita untuk membangun dari perbatasan,” katanya.
Acara peresmian dihadiri, antara lain, Ketua DPR Puan
Maharani, Menko Polhukam Mahfud MD, Mendagri Tito Karnavian, Menteri PUPR
Basuki Hadimuljono, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Bupati Merauke Romanus
Mbaraka, dan Bupati Asmat Elisa Kambu.
PLBN Sota merupakan PLBN kedelapan yang rampung dibangun
di perbatasan Indonesia. Di Papua, ini menjadi PLBN kedua yang selesai dibangun
setelah PLBN Skouw, Jayapura.
PLBN kini memiliki fasilitas baik fasilitas umum,
sosial, maupun komersial. Selain fasilitas pemeriksaan imigrasi, ada juga mes
pegawai, tempat ibadah, pasar, jalur pedestrian, dan area parkir.
Presiden berharap PLBN Sota tidak hanya meningkatkan
pelayanan bagi warga yang me lintasi batas wilayah Indonesia dan Papua Niugini,
tetapi Juga mendorong peningkatan sentra ekonomi di kawasan perbatasan. Dengan
demikian, warga setempat juga lebih sejahtera.
Dalam laporannya, Tito Karnavian yang juga Kepala
Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) menyebutkan, pembangunan PLBN Sota
adalah bagian dari pembangunan 11 PLBN yang ditetapkan dalam Instruksi Presiden
Nomor 1 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Sebelas PLBN Terpadu dan
Sarana Penunjangnya. PLBN dirancang menjadi episentrum pengembangan kawasan
perbatasan dari sisi pertahanan keamanan, ekonomi, dan sosial budaya.
Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, Tito
menyebutkan, kawasan ini memiliki potensi karena memiliki aktivitas
perdagangan, terutama dengan wilayah Western Province, Papua Niugini. Setiap
bulan melintas sekitar 350 orang di perbatasan itu.
Delapan bulan terakhir, barang yang diperdagangkan
berupa kebutuhan sehari-hari, produk pertanian, perkebunan, dan tanaman pangan,
juga barang elektronik, suku cadang kendaraan, dan sepeda.
”Ini dapat menjadi peluang masyarakat sekitar dalam
memenuhi kebutuhan 201.000 warga Western Province negara tetangga,” katanya.
Kabupaten Merauke menjadi lumbung padi terbesar di
Papua. Pada tahun 2020, Merauke mengekspor sebanyak 15.000 ton beras ke Daru,
ibu kota Western Province, melalui Pelabuhan Torasi. Hal ini dinilai perlu
dikembangkan supaya Indonesia bisa memasok kebutuhan, terutama produk-produk
pertanian, ke Papua Niugini.
”Jadi, PLBN Sota adalah awal pusat pertumbuhan
ekonomi baru yang tidak saja bisa berymanfaat untuk masyarakat Papua, juga
negara tetangga, Papua Niugini, dan negara Pasifik lainnya,” tambah Tito.
Dalam kunjungan kerja sebelumnya, Minggu (12/9),
Mahfud MD bersama Tito juga memantau potensi ekonomi di kawasan ini. Mahfud
berharap BNPP dan kementerian lembaga terkait bersama pemerintah daerah bisa
menumbuhkan perekonomian di kawasan perbatasan Sota.
Bukan hanya itu, status PLBN Sota sebagai PLBN tipe
C bisa meningkat menjadi tipe A. Sebab, PLBN mampu mendukung aktivitas ekspor
dan impor. "Tempat yang bagus ini supaya digerakkan sekaligus menjadi
sentra pertumbuhan , ekonomi, terutama ekspor dan impor,” kata Mahfud.
Terminal bandara
Kemarin, Presiden Jokowi juga meresmikan terminal
penumpang Bandara Mopah, Merauke. Pembangunan bandara-bandara di wilayah Papua
ditujukan untuk mempermudah mobilitas orang dan barang serta mempersatukan
Indonesia sebagai bangsa.
Konektivitas, menurut Presiden, sangat dibutuhkan di
Idonesia yang Wilayahnya membentang sangat luas. Sebab, setiap wilayah harus
terhubung satu sama lain. Konektivitas ini juga yang mempersatukan Indonesia
sebagai sebuah bangsa,
Konektivitas yang memudahkan pergerakan orang dan
barang diperlukan untuk mendorong Indonesia supaya bisa bersaing di tataran
global. "Itu pentingnya infrastruktur dan kita sejak tujuh tahun terakhir
terus membangun, mengembangkan bandara, pelabuhan, dan jalan di seluruh penjuru
Tanah Air," katanya.
Presiden berharap kapasitas terminal bandara dapat
terus ditingkatkan untuk mengantisipasi peningkatan penumpang, mobilitas, dan
aktivitas ekonomi. Gubernur Papua serta Bupati Merauke diminta memanfaatkan
keberadaan Bandara Mopah dengan mendorong terbentuknya sentra-sentra ekonomi
baru. Ekspor dan investasi perlu dikuatkan. Dengan demikian, keberadaan bandara
bisa membawa manfaat dan kesejahteraan bagi masyarakat Merauke dan Papua.
Terminal penumpang yang baru di Bandara Mopah ini
seluas 7.200 meter persegi. Dengan luasan tersebut, terminal mampu menampung
638.000 penumpang per tahun.
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian
Perhubungan mencatat, pada tahun 2018, jumlah penumpang bandara ini mencapai
440.000 orang.
Pembangunan dilakukan dengan alokasi anggaran Rp 141
miliar. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menambahkan, ini adalah,
pengembangan tahap pertama dari tiga tahap yang akan dilakukan.
Dengan kondisi saat ini, Bandara Mopah sudah bisa
didarati pesawat berbadan besar, sepert Boeing 737-900 dan Airbus A320. Landas
pacu di Bandara Mopah sepanjang 2.500 meter dengan lebar 45 meter.
Budi mengatakan, Kementerian Perhubungan akan
mengembangkan bandara ini supaya menjadi lebih besar dan mampu menampung
pergerakan penumpang dan logistik yang lebih masif. Tidak hanya itu,
pembangunan bandara ini, juga dihubungkan dengan tol laut yang menghubungkan
distribusi logistik ke daerah pegunungan.
Dukung PON
Dalam penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON)
Papua 2021, terutama di Merauke, logistik juga dikirimkan melalui Bandara
Mopah. Bandara ini menjadi salah satu yang disiapkan untuk mendukung kegiatan
PON dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2021, selain Bandara Sentani di
Jayapura dan Bandara Mozes Kilangin di Timika.
Sejauh ini, bandara yang juga sedang dibangun di Papua, antara lain, adalah Bandara Ewer di Asmat, Bandara Siboru di Fakfak, dan Bandara Douw Aturure di Nabire. (INA/CAS)
Observasi
Sumber berita: Koran kompas Senin, 4 Oktober 2021
Berita tentang: Peristiwa dan Pendapat
Peristiwa =
1) Pada
hari Minggu 3 Oktober 2021, Presiden meresmikan PLBN Sota di Merauke, Papua
2) Pada
hari Minggu 3 Oktober 2021, Presiden juga meresmikan terminal penumpang Bandara
Mopah, Merauke.
Pendapat =
1) Presiden
Joko Widodo "Karena itu, sejak
tujuh tahun terakhir saya memerintahkan pembangunan PLBN di berbagai wilayah
Tanah Air. Dengan wajah baru, tampilan baru, dan paling penting pelayanan baru
yang lebih baik sebagai cermin komitmen kita untuk membangun dari perbatasan,”
2) Tito
Karnavian Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) ”Ini dapat menjadi
peluang masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhan 201.000 warga Western Province
negara tetangga,”
3) Tito
Karnavian Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) ”Jadi, PLBN Sota
adalah awal pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tidak saja bisa berymanfaat
untuk masyarakat Papua, juga negara tetangga, Papua Niugini, dan negara Pasifik
lainnya,”
4) Menko
Polhukam Mahfud MD "Tempat yang bagus ini supaya digerakkan sekaligus
menjadi sentra pertumbuhan , ekonomi, terutama ekspor dan impor,”
5) Presiden
Joko Widodo "Itu pentingnya infrastruktur dan kita sejak tujuh tahun
terakhir terus membangun, mengembangkan bandara, pelabuhan, dan jalan di seluruh
penjuru Tanah Air,"
Analisis
Pada hari Minggu 3 Oktober 2021, Presiden meresmikan
PLBN Sota di Merauke, Papua. PLBN Sota merupakan PLBN kedelapan yang rampung
dibangun di perbatasan Indonesia. Di Papua, ini menjadi PLBN kedua yang selesai
dibangun setelah PLBN Skouw, Jayapura. PLBN kini memiliki fasilitas baik
fasilitas umum, sosial, maupun komersial. Selain fasilitas pemeriksaan
imigrasi, ada juga mes pegawai, tempat ibadah, pasar, jalur pedestrian, dan
area parkir. Dengan dibangunnya PLBN kawasan Sota di Merauke, Papua memiliki
potensi karena memiliki aktivitas perdagangan dan produk-produk pertanian
terutama dengan wilayah Western Province, Papua Niugini. Status PLBN Sota
sebagai PLBN tipe C bisa meningkat menjadi tipe A. Sebab, PLBN mampu mendukung
aktivitas ekspor dan impor. Acara peresmian dihadiri, antara lain, Ketua DPR
Puan Maharani, Menko Polhukam Mahfud MD, Mendagri Tito Karnavian, Menteri PUPR
Basuki Hadimuljono, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, Bupati Merauke Romanus
Mbaraka, dan Bupati Asmat Elisa Kambu.
Pada hari Minggu 3 Oktober 2021, Presiden juga
meresmikan terminal penumpang Bandara Mopah, Merauke. Pembangunan
bandara-bandara di wilayah Papua ditujukan untuk mempermudah mobilitas orang
dan barang serta mempersatukan Indonesia sebagai bangsa. Dalam penyelenggaraan
Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua 2021, terutama di Merauke, logistik juga
dikirimkan melalui Bandara Mopah. Bandara ini menjadi salah satu yang disiapkan
untuk mendukung kegiatan PON dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) 2021,
selain Bandara Sentani di Jayapura dan Bandara Mozes Kilangin di Timika.
Kompas, Senin, 4 Oktober 2021
DKI
Usut Parasetamol di Teluk Jakarta
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama
Universitas Brighton. Inggris, pada 2017-2018 menyebut ada pencemaran
parasetamol di Teluk Jakarta. DKI Jakarta menindaklanjuti riset tersebut untuk
identifikasi kondisi terkini.
JAKARTA, KOMPAS — Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta
menindaklanjuti hasil riset yang menyatakan terdapat konsentrasi parasetamol
cukup tinggi di Teluk Jakarta. Tim dari dinas mengambil sampel air laut di dua
titik untuk memastikan pencemaran dan mengidentifikasi sumber pencemaran untuk
pengambilan tindak lanjut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup
DKI Jakarta Syaripudin, Minggu (3/10/2021), melalui keterangan tertulis
menjelaskan, pengambilan sampel air laut dilakukan pada Sabtu (2/10) di Ancol
dan Muara Angke. ”Hal ini untuk memastikan apakah pencemaran tersebut masih
berlangsung sampai saat ini karena pengambilan sampelnya pada riset tersebut
dilakukan 2017-2018,” katanya.
Dari sampel air laut yang diambil, dinas juga
berupaya mengidentifikasi sumber pencemarannya. ”Sehingga akan ada langkah yang
diambil untuk menghentikan pencemaran tersebut,” kata Syaripudin.
Kepala Seksi Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhwan menjelaskan, sampel air laut itu
kemudian dibawa ke laboratorium kesehatan daerah (labkesda) milik Dinas
Kesehatan DKI Jakarta untuk diteliti. Hasilnya akan diketahui lebih kurang
dalam 14 hari.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyebutkan,
dinas lingkungan memiliki program penelitian dan pemantauan air laut setiap
enam bulan sekali. “Ini kita tunggu hasil pemantauannya,” katanya.
Syaripudin melanjutkan, pemantauan rutin kualitas
air laut itu dilakukan minimal per enam bulan sekali berdasarkan 38 parameter
yang baku mutunya diatur dalam Peraturan Pemerintah No 22/2021 tentang
Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan - Hidup. Namun,
parameter kontaminan jenis parasetamol tidak diatur secara spesifik.
”Tapi, kami berkomitmen untuk mendalami dan
menelusuri sumber pencemarnya dan mengambil langkah untuk menghentikan
pencemaran tersebut,” ujar Syaripudin.
Pencemaran parasetamol di Teluk Jakarta diketahui
dari hasil penelitian para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Para peneliti BRIN melansir, secara teori sisa parasetamol di perairan Teluk
Jakarta dapat berasal dari tiga sumber, yaitu ekskresi akibat konsumsi
masyarakat yang berlebihan, rumah sakit, dan industri farmasi.
Jumlah penduduk yang banyak di kawasan Jabodetabek
dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter memiliki potensi sebagai
sumber kontaminan di perairan. Sementara dari rumah sakit dan industri farmasi
dapat disebabkan sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal
sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai sampai
ke perairan pantai.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia
(Walhi) DKI Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi secara terpisah mengatakan, adanya
hasil penelitian BRIN yang menemukan kandungan parasetamol di Teluk Jakarta
menunjukkan Pemprov DKI belum cukup serius memberi perlindungan terhadap Teluk
Jakarta. Padahal, revitalisasi Teluk Jakarta merupakan salah satu kegiatan
strategis daerah. Temuan ini semakin menambah panjang daftar beban pencemaran
di Teluk Jakarta.
Seharusnya di tengah upaya menyusun revitalisasi,
pencegahan terhadap beban pencemaran dilakukan terlebih dahulu, termasuk
menginventarisasi segala jenis pencemaran.
"Meskipun parasetamol bukan termasuk parameter
pencemaran, bukan berarti Pemprov DKI abai terhadap parameter-parameter lain.
yang mencemari Teluk Jakarta. Jika dugaan kandungan parasetamol ini berdampak
pada makhluk hidup dan ekosistem Teluk Jakarta, maka ini juga akan semakin
membebani masyarakat pesisir dan nelayan yang ruang hidupnya sangat bergantung
pada Teluk Jakarta,” katanya.
Walhi DKI Jakarta meminta Pemprov DKI Jakarta untuk
mendalami temuan BRIN dan mengkaji lebih luas dampak yang ditimbulkan pada
ekosistem Teluk Jakarta, mengevaluasi segera dan memonitor semua fasilitas
kesehatan di Ibu Kota dalam hal penanganan limbah, serta membuka kepada publik
rencana revitalisasi Teluk Jakarta dan hasil pemantauan secara berkala kepada
publik.
Logam berat
Sebelum temuan parasetamol, Teluk Jakarta divonis
dengan kandungan logam berat yang tinggi. Masyarakat diimbau membatasi konsumsi
kerang hijau karena menjadi penyerap utama logam berat. Sejumlah ikan juga
terindikasi tercernar.
”Hasil penelitian kami, kandungan logam berat di
Teluk Jakarta terus naik. Logam berat ini juga sudah mencemari kerang dan ikan
sehingga berbahaya jika dikonsumsi,” kata Etty Riani, dosen dan peneliti di
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, seperti dikutip dari
Kompas pada 10 Juli 2017.
Logam
berat yang ditemukan, antara lain, berupa merkuri (Hg), timbal (Pb), kromium
(Cr), kadmium (Cd), dan timah putih (Sn). "Pencemaran logam berat di
sedimen Teluk Jakarta sampai jarak 2 kilometer dari pantai,” kata Etty kala
itu.
(HLN)
Observasi
Sumber berita: Koran kompas Senin, 4 Oktober 2021
Berita tentang: Peristiwa dan Pendapat
Peristiwa
=
1) Dari
2017-2018 Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Universitas
Brighton. Inggris menyebut ada pencemaran parasetamol di Teluk Jakarta.
2) Pengambilan
sampel air laut dilakukan pada Sabtu (2/10) di Ancol dan Muara Angke.
3) Pencemaran
parasetamol di Teluk Jakarta diketahui dari hasil penelitian para peneliti
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Para peneliti BRIN melansir, secara
teori sisa parasetamol di perairan Teluk Jakarta dapat berasal dari tiga
sumber, yaitu ekskresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan, rumah sakit,
dan industri farmasi.
Pendapat
=
1) Pelaksana
Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin, Minggu (3/10/2021)
”Hal ini untuk memastikan apakah pencemaran tersebut masih berlangsung sampai
saat ini karena pengambilan sampelnya pada riset tersebut dilakukan 2017-2018,”
2) Pelaksana
Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin ”Sehingga akan
ada langkah yang diambil untuk menghentikan pencemaran tersebut,”
3) Pelaksana
Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin ”Tapi, kami
berkomitmen untuk mendalami dan menelusuri sumber pencemarnya dan mengambil
langkah untuk menghentikan pencemaran tersebut,”
4) Direktur
Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI Jakarta Tubagus Soleh
Ahmadi "Meskipun parasetamol bukan termasuk parameter pencemaran, bukan
berarti Pemprov DKI abai terhadap parameter-parameter lain. yang mencemari
Teluk Jakarta. Jika dugaan kandungan parasetamol ini berdampak pada makhluk
hidup dan ekosistem Teluk Jakarta, maka ini juga akan semakin membebani
masyarakat pesisir dan nelayan yang ruang hidupnya sangat bergantung pada Teluk
Jakarta,”
5) ”Hasil
penelitian kami, kandungan logam berat di Teluk Jakarta terus naik. Logam berat
ini juga sudah mencemari kerang dan ikan sehingga berbahaya jika dikonsumsi,”
kata Etty Riani, dosen dan peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
University, seperti dikutip dari Kompas pada 10 Juli 2017.
6) "Pencemaran logam berat di sedimen Teluk Jakarta sampai jarak 2 kilometer dari pantai,” kata Etty Riani kala itu.
Analisis
Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menindaklanjuti hasil riset
yang menyatakan terdapat konsentrasi parasetamol cukup tinggi di Teluk Jakarta.
Tim dari dinas mengambil sampel air laut di dua titik untuk memastikan
pencemaran dan mengidentifikasi sumber pencemaran untuk pengambilan tindak
lanjut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta
Syaripudin, Minggu (3/10/2021), melalui keterangan tertulis menjelaskan,
pengambilan sampel air laut dilakukan pada Sabtu (2/10) di Ancol dan Muara
Angke. Dari sampel air laut yang diambil, dinas juga berupaya mengidentifikasi
sumber pencemarannya. Kepala Seksi Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat Dinas
Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yogi Ikhwan menjelaskan, sampel air laut itu
kemudian dibawa ke laboratorium kesehatan daerah (labkesda) milik Dinas
Kesehatan DKI Jakarta untuk diteliti.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyebutkan, dinas
lingkungan memiliki program penelitian dan pemantauan air laut setiap enam
bulan sekali. Syaripudin melanjutkan, pemantauan rutin kualitas air laut itu
dilakukan minimal per enam bulan sekali berdasarkan 38 parameter yang baku
mutunya diatur dalam Peraturan Pemerintah No 22/2021 tentang Penyelenggaraan
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan - Hidup.
Pencemaran parasetamol di Teluk Jakarta diketahui dari hasil
penelitian para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Para peneliti
BRIN melansir, secara teori sisa parasetamol di perairan Teluk Jakarta dapat
berasal dari tiga sumber, yaitu ekskresi akibat konsumsi masyarakat yang
berlebihan, rumah sakit, dan industri farmasi.
Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) DKI
Jakarta Tubagus Soleh Ahmadi secara terpisah mengatakan, adanya hasil
penelitian BRIN yang menemukan kandungan parasetamol di Teluk Jakarta
menunjukkan Pemprov DKI belum cukup serius memberi perlindungan terhadap Teluk
Jakarta. Jika dugaan kandungan parasetamol ini berdampak pada makhluk hidup dan
ekosistem Teluk Jakarta, maka ini juga akan semakin membebani masyarakat
pesisir dan nelayan yang ruang hidupnya sangat bergantung pada Teluk
Jakarta," katanya.
Sebelum temuan parasetamol, Teluk Jakarta divonis dengan kandungan logam berat yang tinggi. "Hasil penelitian kami, kandungan logam berat di Teluk Jakarta terus naik. Logam berat yang ditemukan, antara lain, berupa merkuri, timbal, kromium, kadmium, dan timah putih. Pencemaran logam berat di sedimen Teluk Jakarta sampai jarak 2 kilometer dari pantai," kata Etty Riani, dosen dan peneliti di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, seperti dikutip dari Kompas pada 10 Juli 2017.
Kompas,
Senin, 4 Oktober 2021
PLTA Musi Jajaki Perdagangan Karbon
Pembangkit listrik tenaga air atau PLTA Musi di Bengkulu merupakan salah satu pembangkit yang dijadikan penjajakan perdagangan karbon. PLTA berkapasitas 210 megawatt ini mengikuti proyek percontohan verified carbon standard melalui agensi South Pole. Agensi ini yang mencarikan pembeli internasional, baik sektor industri maupun perorangan.
Terdapat daya terpasang 2.671 megawatt (MW) PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Unit Induk Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan (UIKSBS), yang meliputi wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat. Dari daya tersebut, kontribusi energi terbarukan sebesar 718 MW yang datang dari tenaga air 608 MW dan panas bumi sebesar 110 MW.
”Selain berkontribusi 29 persen terhadap bauran energi terbarukan di UIKSBS, PLTA Musi juga menjadi tulang punggung kelistrikan di sistem Pulau Sumatera. Apabila terjadi pemadaman listrik, PLTA Musi merupakan unit pembangkit pertama yang bisa menyuplai ke sistem Sumatera,” kata Manajer PLN Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Bengkulu I Nyoman Buda saat dijumpai di kantornya di area PLTA Musi, Senin (27/9/2021).
Bendungan PLTA Musi dibangun di aliran Sungai Musi di . Desa Ujan Mas Atas, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, sekitar 63 kilometer dari Kota Bengkulu. Sebagian aliran air dibelokkan dan ditampung di kolam khusus sedalam 8 meter. Kemudian, air dialirkan melalui terowongan berdiamater 5 meter sepanjang 2,57 kilometer yang menembus pegunungan Bukit Barisan ke arah barat daya.
Air tersebut dijatuhkan ke turbin di bawah
tanah dengan ketinggian 400 meter. Air bertekanan 40 bar itulah yang
menggerakkan tiga unit pembangkit dengan bobot masing-masing sekitar 150 ton,
termasuk turbin dan generator. ”Semakin tinggi jatuh air, potensinya semakin
besar,” ucap Manajer Unit Layanan PLTA Musi Martin Wahyunus.
Ramah lingkungan
Karena menggunakan air sebagai sumber energi, PLTA Musi ramah terhadap lingkungan. Menurut Nyoman, PLTA tidak menghasilkan polusi udara, limbah cair, ataupun limbah padat. Sejak 2008, pembangkit ini sudah menjajaki perdagangan karbon. PLTA Musi sudah mengikuti verifikasi dalam rentang 1 April 2009-30 Maret 2017 dengan jumlah penurunan emisi karbon 7,24 juta ton CO2. Saat ini juga tengah dilakukan verifikasi untuk periode 2017-2021. "Dasar perhitungannya adalah jumlah produksi diekuivalenkan dengan emisi karbon yang tereduksi,” ujarnya.
Pada 2020, PLTA Musi mampu mencapai produksi tertinggi selama pembangkit listrik ini berdiri, yaitu 1,23 juta megawatt jam (MWh), melebihi potensi karena musim hujannya lebih banyak. Sebelumnya, total produksi tahun 2018 sebanyak 107. juta MWh dan 2019 sebesar 950447 MWh. Untuk periode Januari-Agustus 2021, total produksinya 822.826 MWh.
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, skema perdagangan karbon juga bisa diterapkan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar dari batubara. Perdagangan karbon yang dikenakan pada PLTU dapat mendorong pengembangan energi terbarukan.
”Kuncinya adalah harga atau nilai karbon yang
merefleksikan biaya sosial karbon (social cost of carbon) dan cukup signifikan
untuk mengubah perilaku dari pengembang atau pengguna energi untuk beralih ke
listrik yang hijau dari pembangkit energi terbarukan,” kata Fabby. (JOL/APO)
Observasi
Sumber berita: Koran kompas Senin, 4 Oktober 2021
Berita tentang: Peristiwa, Rencana dan Pendapat
Peristiwa =
1) Pembangkit listrik
tenaga air atau PLTA Musi di Bengkulu merupakan salah satu pembangkit yang
dijadikan penjajakan perdagangan karbon.
2) Bendungan PLTA Musi
dibangun di aliran Sungai Musi di . Desa Ujan Mas Atas, Kecamatan Ujan Mas,
Kabupaten Kepahiang, sekitar 63 kilometer dari Kota Bengkulu.
3) Pada 2020, PLTA Musi
mampu mencapai produksi tertinggi selama pembangkit listrik ini berdiri, yaitu
1,23 juta megawatt jam (MWh), melebihi potensi karena musim hujannya lebih
banyak.
Rencana dan Pendapat =
1) Manajer PLN Unit
Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Bengkulu I Nyoman Buda ”Selain
berkontribusi 29 persen terhadap bauran energi terbarukan di UIKSBS, PLTA Musi
juga menjadi tulang punggung kelistrikan di sistem Pulau Sumatera. Apabila
terjadi pemadaman listrik, PLTA Musi merupakan unit pembangkit pertama yang
bisa menyuplai ke sistem Sumatera,”
2) Manajer Unit Layanan
PLTA Musi Martin Wahyunus ”Semakin tinggi jatuh air, potensinya semakin besar,”
3) Manajer PLN Unit
Pelaksana Pengendalian Pembangkitan Bengkulu I Nyoman Buda "Dasar
perhitungannya adalah jumlah produksi diekuivalenkan dengan emisi karbon yang
tereduksi,”
4) Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa ”Kuncinya adalah harga atau nilai karbon yang merefleksikan biaya sosial karbon (social cost of carbon) dan cukup signifikan untuk mengubah perilaku dari pengembang atau pengguna energi untuk beralih ke listrik yang hijau dari pembangkit energi terbarukan,”
Analisis
Pembangkit listrik tenaga air atau PLTA Musi di
Bengkulu merupakan salah satu pembangkit yang dijadikan penjajakan perdagangan karbon.
Terdapat daya terpasang 2.671 megawatt (MW) PT Perusahaan Listrik Negara
(Persero) Unit Induk Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan (UIKSBS), yang
meliputi wilayah Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera
Barat. Dari daya tersebut, kontribusi energi terbarukan sebesar 718 MW yang
datang dari tenaga air 608 MW dan panas bumi sebesar 110 MW. ”Selain
berkontribusi 29 persen terhadap bauran energi terbarukan di UIKSBS, PLTA Musi
juga menjadi tulang punggung kelistrikan di sistem Pulau Sumatera. Apabila
terjadi pemadaman listrik, PLTA Musi merupakan unit pembangkit pertama yang
bisa menyuplai ke sistem Sumatera,” kata Manajer PLN Unit Pelaksana
Pengendalian Pembangkitan Bengkulu I Nyoman Buda saat dijumpai di kantornya di
area PLTA Musi, Senin (27/9/2021).
Air bertekanan 40 bar itulah yang menggerakkan tiga unit pembangkit dengan bobot masing-masing sekitar 150 ton, termasuk turbin dan generator. Karena menggunakan air sebagai sumber energi, PLTA Musi ramah terhadap lingkungan. PLTA Musi sudah mengikuti verifikasi dalam rentang 1 April 2009-30 Maret 2017 dengan jumlah penurunan emisi karbon 7,24 juta ton CO2. "Dasar perhitungannya adalah jumlah produksi diekuivalenkan dengan emisi karbon yang tereduksi,” ujarnya. Pada 2020, PLTA Musi mampu mencapai produksi tertinggi selama pembangkit listrik ini berdiri, yaitu 1,23 juta megawatt jam (MWh), melebihi potensi karena musim hujannya lebih banyak. Menurut Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa, skema perdagangan karbon juga bisa diterapkan pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar dari batubara. Perdagangan karbon yang dikenakan pada PLTU dapat mendorong pengembangan energi terbarukan.


Komentar
Posting Komentar